Meneladani Kesungguhan Sahabat Belajar Agama Dari Nabi Muhammad SAW

    Pengertian mudah dari sahabat nabi adalah orang yang beriman sezaman dengan nabi Muhammad SAW dan ia memeluk islam sampai wafat. Merekalah yang menemani nabi dalam dakwah agama islam baik secara sirri (diam-diam) maupun jahri (terang-terangan), banyak keterangan dari al-Qur’an maupun Hadis yang membicarakan tentang kemuliaan para sahabat nabi ini dikarenakan kerelaan mereka dalam berkorban dalam segala hal dalam membantu dakwah islam, diantara dalil mengenai kemuliaan sahabat nabi adalah perkataan nabi sendiri yaitu yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ[1]

dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah telah bersabda, 'Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seseorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan para sahabatku.

foto : laduni.id

    Hadis di atas nabi Muhammad menyebutkan keistimewaan para sahabatnya, bahkan jika kita berinfak emas sebesar gunung Uhud maka niscaya infak kita tersebut tidak bisa menandingi apa yang di infakkan oleh para sahabat walaupun hanya satu mud. Wajar memang jika nabi memuji para sahabatnya karena mereka yang selalu di sisi nabi ketika beliau mendakwahkan agama islam.

      Kemudian sahabat sendiri secara umum dibagi menjadi dua yang pertama yaitu sahabat Muhajirin, mereka adalah sahabat nabi ketika dakwah di Makkah periode pertama sebelum hijrah ke Madinah, kedua yaitu sahabat Ansar, mereka adalah sahabat nabi yang ada di Madinah, dan merekalah yang menolong nabi beserta rombongan ketika berhijrah ke Madinah mulai dari menyediakan tempat tinggal hingga memberikan bantuan logistik. Saat hijrah ke Madinah nabi Muhammad SAW tetap melakukan dakwah islam sebagaimana di Makkah, dan pengikutnya di Madinah semakin banyak dikarenakan banyaknya penduduk Madinah yang ikut memeluk agama Islam.

       Ada sebuah cerita menarik dari sahabat Umar bin Khattab ketika beliau telah berhijrah ke Madinah,  beliau memiliki tetangga seorang sahabat Ansar yang mana Umar dan tetangganya tersebut bergantian datang ke majlis Rasululloh SAW, apabila yang datang ke majlis adalah Umar maka dialah yang menceritakan apa saja yang didapat ketika ia datang ke majlis Rasululloh tersebut, begitupun sebaliknya jika yang datang adalah tetangganya umar, maka dialah yang menceritakan apa saja yang didapat ketika hadir di majlis Rasululloh SAW, hal ini bukan karena tanpa alasan, umar dan tetangganya tersebut punya kesibukan lain yang tidak bisa ditinggal, tetapi mereka tetap berusaha untuk menimba ilmu dari Rasulilloh SAW.[2]

     Dari kisah Umar dan tetangganya tadi bisa diambil sebuah pelajaran memang seharusnya dalam hidup dalam islam kita dianjurkan untuk imbang dalam urusan dunia dan akhirat, jangan sampai kita terlalu sibuk dengan dunia sampai-sampai melupakan akhirat, dan juga kita tidak dianjurkan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah (Ghulluw) sampai-sampai lupa kalau kita juga perlu memikirkan dunia demi keberlangsungan hidup.

 



[1] Hadis R Muslim no 4619

[2] Abu Syahbah, al-Wasith fi Ulum wa Mustholah al-Hadis, hal 49

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkinkah mencintai tanpa adanya sebuah alasan

Dalil Implisit Disyariatkannya Cinta Tanah Air

cabang-cabang ilmu hadits

Imam al-Kisa'i dan Bocah Bandel

Siapakah Yang Jadi Fir'aun di Umat Nabi Muhammad SAW

Mengawal halal dan haram sebelum melakukan sesuatu

Santri Harus Pandai Mimikri Seperti Bunglon