Imam al-Kisa'i dan Bocah Bandel

     kufah adalah negeri dengan sejuta gudang ilmu dan ulama yang masyhur pada eranya, sebagai kiblat ilmu pengetahuan islam yang sejajar dengan negeri-negeri lain seperti Bashrah, Baghdad, Mesir dll. Di kota ini ada sebuah disiplin ilmu yang sangat dikagumi pada saat itu, yaitu ilmu qira'at. Di kufah sendiri ada tiga nama besar ulama yang ahli pada bidang ini, (1) Imam Ashim, ahli qira'at sekaligus ahli hadits, (2) Imam Hamzah, ahli qira'at dan faraidh, (3) Imam Kisa'i, ahli qiraat dan gramatika bahasa Arab (lughah). Dari ketiga nama diatas ada kisah menarik dari salah satu tokoh besar diatas, yaitu imam al-Kisa'i yang layak jadikan contoh dan ibrah untuk kita yang sedang menuntut ilmu.

    Imam al-Kisa'i dikenal sebagai tokoh nahwu yang sangat populer dari Kufah, beliau sebagai pencetus madzhab Kufah dalam bidang nahwu dan menjadi rival dari madzhab Basrah. Nama asli dari imam al-Kisa'i adalah Abu Hasan Ali ibn Hamzah, yang berasal dari kebangsaan Persia. Sedangkan nama al-Kisa'i merupakan julukan yang diberikan kepadanya. Sebagaimana diriwayatkan bahwa julukan tersebut diperoleh karena beliau pernah menghadiri sebuah Majlis Hamzah ibn Habib al-Zayyat dengan memakai baju (كساء) bagus yang mahal. Ketika sang guru bertanya kepada murid lainnya karena imam al-Kisa'i tidak hadir pada waktu itu: “Apa yang telah dilakukan oleh Si pemakai baju bagus"?. Pada saat itu, beliau lebih akrab dikenal dengan panggilan al-Kisa'i”. Beliau lahir di kuffah, pada tahun 119 H dan wafat pada 189 H.

Ada cerita menarik dibalik perjalanan imam al-Kisa'i dalam menuntut ilmu sampai beliau menjadi masyhur sebagai ulama ahli lughat (bahasa Arab) dan ahli qiroat, sehingga beliau disegani oleh umat Islam dan ulama-ulama lain pada eranya,

Al-Imam al-Kisa'i, dahulunya adalah seorang penggembala kambing, ia berprofesi sebagai penggembala hingga usia 40 tahun. Lalu apa yang membuat ia berhenti dari profesinya itu?, berikut kisahnya. Suatu hari ketika ia sedang menggembala kambing-kambingnya, ia melihat seorang ibu sedang menyuruh anaknya berangkat mengaji, namun anaknya keras kepala dan terus menolak.Lantas ibu itu berkata kepada anaknya,

يَابُنَيَّ، اِذْهَبْ إلىٰ الحَلْقَةِ لِتَتَعَلَمَ، حَتَّى إذا كَبِرْتَ لاَ تَكُوْنُ مِثْلَ هَذا الرَّاعِي،

"Nak, ayo berangkat mengaji agar kau pandai, hingga saat kau besar nanti kau tak menjadi seperti si penggembala itu. (sambil menunjuk ke arahnya)"

Ucapan si ibu itu seakan menampar dirinya (Imam al-Kisa’i), ia berkata kepada dirinya,

أنَا يُضْرَبُ بِي المِثْلَ فِي الجَهْلِ

"Aku dijadikan perumpamaan sebagai orang yang bodoh. (sungguh hinanya diriku)"

    Semenjak kejadian itu akhirnya ia pergi ke pasar lalu menjual seluruh kambingnya. Ia mulai fokus menimba ilmu dengan giat dan penuh semangat. Hingga berkat kegigihannya ia menjadi pakar dalam ilmu lughat (bahasa arab) dan ilmu qiraat, dan menjadi seorang yang dijadikan contoh didalam keluasan ilmu dan tingginya semangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkinkah mencintai tanpa adanya sebuah alasan

Dalil Implisit Disyariatkannya Cinta Tanah Air

cabang-cabang ilmu hadits

Siapakah Yang Jadi Fir'aun di Umat Nabi Muhammad SAW

Mengawal halal dan haram sebelum melakukan sesuatu

Santri Harus Pandai Mimikri Seperti Bunglon