Awal Mula Adanya Istilah Qurban dalam al-Qur’an

 

Hari raya idul Adha atau yang lebih dikenal sebagai idul qurban dirayakan oleh umat muslim setiap tahunnya pada tanggal 10 Dzulhijjah, pada hari raya ini memiliki perbedaan dengan hari raya sebelumnya yaitu hari raya idul Fitri, perbedaannya adalah adanya syariat penyembelihan hewan qurban.


Banyak yang menyangkut pautkan latar belakang adanya syariat qurban pada hari raya idul Adha dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as yang akan menyembelih nabi Ismail as karena perintah Allah, dan inilah cerita yang paling masyhur, dan memang qurban dengan menyembelih hewan yang disyariatkan oleh agama Islam adalah sebagai simbolisasi terhadap pengorbanan nabi Ibrahim as dan nabi Ismail as, tapi sebenarnya Al Qur'an sendiri telah menceritakan jauh sebelum zaman nabi Ibrahim as dan Ismail as mengenai peristiwa atau istilah qurban.

Al Qur'an sendiri telah mengabadikan sebuah peristiwa yang berkaitan dengan qurban, yaitu cerita yang dialami oleh anak-anak nabi Adam as yang bernama Qabil dan Habil, kisah ini tercantum pada surat al-Maidah ayat 27

 

 وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ    قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

 

"Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa".

Dalam tafsir al-Qurtubi disebutkan bahwa ayat 27 dari surat al-Maidah tadi mayoritas ulama mengaitkan dengan cerita dua anak nabi Adam as yaitu Habil dan Qabil ketika mereka berdua sama-sama menyerahkan qurban kepada Allah SWT, dalam tafsirnya imam al-Qurtubi menjelaskan mengenai perbedaan apa yang diqubankan Qabil dan Habil, sehingga Allah hanya menerima qurban dari Habil saja dan tidak untuk qurbannya Qabil,

 

وَكَانَ قُرْبَانُ قَابِيلَ حزمة من سنبل لأنه كان صَاحِبَ زَرْعٍ وَاخْتَارَهَا مِنْ أَرْدَأِ زَرْعِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ وَجَدَ فِيهَا سُنْبُلَةً طَيِّبَةً فَفَرَكَهَا وَأَكَلَهَا.

القرطبي، شمس الدين ,تفسير القرطبي ,6/134

Dan persembahan Qabil adalah seikat bulir jagung/gandum karena dia memiliki ladang dan dia memilih dari tanamannya yang paling jelek/buruk, kemudian dia menemukan di dalamnya sebutir biji yang bagus lantas dia mengupas lalu memakannya.

Sedangkan untuk penjelasan mengenai apa yang diqurbankan Habil,

وَكَانَ قُرْبَانُ هَابِيلَ كَبْشًا لِأَنَّهُ كَانَ صَاحِبَ غَنَمٍ أَخَذَهُ مِنْ أَجْوَدِ غَنَمِهِ." فَتُقُبِّلَ" فَرُفِعَ إِلَى الْجَنَّةِ.

القرطبي، شمس الدين ,تفسير القرطبي ,6/134

Dan persembahan dari Habil adalah seekor domba, karena dia memiliki kambing (peternakan), dan dia mengambilnya yang terbaik dari kambing-kambingnya, kemudian Allah menerima qurban dari Habil lalu mengangkatnya ke surga.

Kesimpulan yang dapat diambil dari tafsir al-Qurtubi tadi adalah alasan mengapa qurban dari Habil yang diterima, sedangkan untuk Qabil tidak, padahal mereka sama-sama menyerahkan persembahan/qurban?, hal ini dikarenakan keikhlasan dari Habil dalam berqurban, dia rela untuk mengorbankan domba terbaik yang dimilikinya untuk dipersembahkan kepada Allah SWT, sedangkan Qabil, dia tidak serius dalam mencari qurbannya, bahkan seakan akan dia tidak ikhlas dalam berqurban karena dia memilih yang terburuk dari apa yang dia miliki. Oleh karenanya pelajaran yang dapat kita ambil dari qurban adalah sebuah nilai keikhlasan, bagaimana kita rela mengeluarkan sebagian harta untuk diqurbankan dengan niatan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkinkah mencintai tanpa adanya sebuah alasan

Dalil Implisit Disyariatkannya Cinta Tanah Air

cabang-cabang ilmu hadits

Imam al-Kisa'i dan Bocah Bandel

Siapakah Yang Jadi Fir'aun di Umat Nabi Muhammad SAW

Mengawal halal dan haram sebelum melakukan sesuatu

Santri Harus Pandai Mimikri Seperti Bunglon