Takfir seri 2
Takfiri di Era Modern dan Hal Hal Yang Menjadi Faktor Penyebabnya
PENGERTIAN
Kata kafir berasal dari akar kata 3 huruf yaitu ك.ف.ر yang memiliki arti dasar adalah tertutup atau terhalang. Secara istilah kafir adalah orang yang tidak mengikuti petunjuk allah SWT karena petunjuk tersebut terhalang darinya.
MACAM MACAM TAKFIR
- Takfir muthlaq, yaitu pengkafiran secara umum tanpa menentukan orang atau individu tertentu. Contoh ucapan pengkafiran secara muthlaq : “Barangsiapa berdoa kepada orang mati, atau menyembelih kepada salain allah, atau mengatakan al-qur’an itu makhluk, maka ia kafir”
- Takfir muayyan, yaitu pengkafiran terhadap individu tertentu. Contoh ucapan : “Udin telah kafir karena berdoa kepada orang mati, atau fulan telah kafir karena menyembelih kepada selain allah”
SYARAT TAKFIR MUAYYAN
Pertama : Adanya keteteapan yang sudah jelas (berdasarkan al qur’an dan sunnah) bahwa sesuatu yang dilakukan oleh seseorang tertentu merupakan perbuatan yang benar-benar bersifat kekafiran.
Kedua : Syarat-syarat kekafiran atas diri seseorang sudah tepat dan tidak ada penghalang. Syaikhul isalam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa syarat-syarat seseorang dapat dihukumi sebagai kafir adalah
1.mengetahui jelas bahwa perbuatannya tersebut menyebabkan ia kafir, sehingga apabila ia tidak mengerti, maka ia belum kafir.
2.Dilakukan secara sengaja
3.Tidak ada paksaan
LATAR BELAKANG ADANYA TAKFIR KEPADA SESAMA MUSLIM
Awal mula terjadinya perbuatan takfir ditengah umat islam sebenarnya sudah ada sejak pada masa sahabat, diawali dengan munculnya sekte Khawarij pada zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Fitnah ini pernah mengguncang dunia islam, menumpahkan ribuan bahkan jutaan darah kaum muslimin untuk meredam fitnah ini. Sejak pembunuhan khalifah dan menantu Rasululloh SAW Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, disusul dengan terbunuhnya khalifah dan menantu Raslulloh SAW Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu hingga pemberontakan mereka terhadap Negara islam bani Umayyah dan Abbasiyah, serta Negara-negara islam saat ini. Sehingga Dr.Ghalib bin Ali Al ’Awajiy menyatakan “ Khawarij merupakan salah satu firqah besar yang melakukan revolusi berdarah dalam sejarah politik islam, merka telah menyibukkan Negara-negara islam dalam waktu yang sangat panjang “.
Saat pertama kali muncul, mereka mencela sebaik-baik orang shalih waktu itu, yaitu khalifah Ali Radhiyallahu ‘anhu. Bukanlah suatu hal aneh karena tokoh pertama mereka yang bernama Dzul khuwaishirah telah mencela sebaik-baik manusia yaitu Rasululloh SAW, dikisahkan dalam suatu riwayat dibawah ini :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قَسْمًا، أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ - وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ - فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، اعْدِلْ. فَقَالَ : " وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ ؟ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ ". فَقَالَ عُمَرُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ. فَقَالَ : " دَعْهُ ؛ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ - وَهُوَ قِدْحُهُ - فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ، قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ ، آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ، إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ - أَوْ : مِثْلُ الْبَضْعَةِ - تَدَرْدَرُ ، وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ ". قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ، فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ.
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin 'Abdur Rahman bahwa Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu berkata; "Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; "Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil". Maka beliau berkata: "Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil". Kemudian 'Umar berkata; "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: "Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan). (Karena sangat cepatnya anak panah yang dilesakkan), maka ketika ditelitilah ujung panahnya maka tidak ditemukan suatu bekas apapun, lalu ditelitilah batang panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun lalu, ditelitilah bulu anak panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun, rupanya anak panah itu sedemikian dini menembus kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah laki-laki berkulit hitam yang salah satu dari dua lengan atasnya bagaikan payudara wanita atau bagaikan potongan daging yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul pada zaman timbulnya firqah/golongan". Abu Sa'id berkata, Aku bersaksi bahwa aku mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan aku bersaksi bahwa 'Ali bin Abu Thalib telah memerangi mereka dan aku bersamanya saat itu lalu dia memerintahkan untuk mencari seseorang yang bersembunyi lalu orang itu didapatkan dan dihadirkan hingga aku dapat melihatnya persis seperti yang dijelaskan ciri-cirinya oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam".
Dari hadits ini rasululloh juga memprediksi akan adanya golongan atau sekte yang terlahir dari keturunan Dzul khuwaisiroh yaitu golongan khawarij, tapi golongan khawarij pada masa sekarang sudah bukan seperti zaman sahabat, mereka sudah bermetamorfosa dengan nama baru dan tentunya konsep beragama yang telah diperbarui.
Pada seperempat abad yang lalu muncullah istilah takfir dan hijrah, ditandai dengan suatu kejadian besar, yaitu pembunuhan terhadap penulis kitab At Tafsir wal mufassirun, Syaikh Muhammad Husein Adz Dzahabi.
JAMA’AH TAKFIR WAL HIJRAH
Jamaah takfir wal hijrah ini dikatakan oleh para peniliti, sebagai bagian dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka kecewa dengan sikap dan tindakan tokoh-tokoh pemimpin Ikhwanul Muslimin dengan peran mereka dalam politik negeri Mesir. Lalu mengangkat panji hakimiyah sebagai simbol pemisah kafir dan Islam. Pada akhirnya, mereka mengkafirkan seluruh kaum muslimin, baik penguasa maupun rakyatnya, tentunya kecuali anggota jamaah mereka.
Dari takfir ini, mereka melakukan pembunuhan, peledakan dan pelecehan hak para ulama serta kaum muslimin. Mereka mengambil pemikirannya berdasarkan tulisan dan pernyataan Sayyid Quthub yang telah menjadi imam dan pemikir sejatinya. Kita akan semakin jelas melihatnya, jika mencermati dan menelaah pemikiran Sayyid Quthub, salah seorang tokoh legendaris Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka banyak menjadikan pemikiran tokoh intelektual ini dalam kaidah beragama. Menyebabkan mereka menjadi orang yang cepat memvonis kafir terhadap orang lain. Mencela para ulama yang tidak cocok atau dianggap tidak sesuai dengan mereka. Hal ini tidaklah mengherankan. Karena orang yang telah terkena fitnah takfir, tentunya tidak lepas dari gaya penampilan para pendahulu mereka dari kalangan Khawarij. Beberapa pemikiran Sayyid Quthub tentang takfir, dapat diketahui besarnya bahaya yang muncul karenanya.
Tentang takfir ini, Sayyid Quthub mengkafirkan hampir seluruh kaum muslimin, termasuk para muadzin yang selalu melantunkan kalimat tauhid. Seperti ini dapat dilihat pada tulisan beliau. Diantara pernyataan beliau, ialah:
- Manusia telah murtad kepada penyembah makhuk (paganisme) dan kejahatan agama serta keluar dari Laa ilaha illa Allah. Walaupun sebagian mereka masih mengumandangkan adzan
- Manusia telah kembali kepada kejahiliyahan, dan keluar dari Laa ilaha Illa Allah Manusia seluruhnya termasuk orang–orang yang selalu mengumandangkan kalimat Laa ilaha illa Allah pada adzan-adzan di timur sampai barat bumi ini tanpa pengertian dan pembuktian nyata bahkan mereka ini lebih berat dosa dan adzabnya pada hari kiamat, karena mereka telah murtad kepada penyembahan makhluk, setelah jelas bagi mereka petunjuk dan setelah mereka berada di agama Allah.
- Masyarakat yang menganggap dirinya muslim masuk ke dalam lingkungan masyarakat jahiliyah, bukan karena meyakini uluhiyah kepada selain Allah. Bukan pula karena menunjukkan syi’ar-syi’ar peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi mereka masuk ke dalam lingkup ini karena tidak beribadah kepada Allah saja dalam hukum-hukum kehidupannya.
- Orang yang tidak mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hakimiyah di semua zaman dan tempat adalah orang-orang musyrik. Tidak mengeluarkan mereka dari kesyirikan ini, walaupun mereka berkeyakinan terhadap Laa ilaha illa Allah dan tidak pula syi’ar (peribadatan) yang mereka tujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Di permukaan bumi ini, tidak ada satupun negara Islam dan tidak pula masyarakat muslim.
Sayyid Quthub mengkafirkan masyarakat kaum muslimin yang ada. Karena masyarakat muslim itu tidak menggunakan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengatur kehidupan mereka. Akan tetapi, beliau mensifatkan penyembah berhala -dari kalangan kaum musyrikin dengan pernyataannya: “Kesyirikan mereka yang hakiki bukanlah pada permasalahan ini, yaitu penyembahan berhala untuk mendekatkan diri dan meminta syafaat di hadapan Allah, dan tidak pula islamnya orang yang masuk Islam karena meninggalkan permohonan syafaat kepada para berhala tersebut”
GOLONGAN-GOLONGAN YANG SUKA TAKFIR
- Khawarij, inilah takfiri generasi pertama. yaitu orang-orang yang keluar dari barisan Imam Ali. orang-orang yang sangat tekstualis dalam memahami ayat suci sehingga mudah mensesat-kafirkan yang tidak sepaham dengannya. sampai pada titik puncak kedunguan dengan terjadinya peristiwa pembunuhan Imam Ali. Ulama-ulama Islam dari dua madzbah besar Sunni dan Syiah sama sepakat mengutuk kelompok ini.
- Syiah Takfiri, ini adalah takfiri jenis dan generasi kedua. karena mereka overdosis dalam mencintai Ali, mereka begitu membenci hingga mengkafirkan sahabat-sahabat dan istri nabi yang bersebrangan dengan Ali. publik mengenalnya dengan istilah nashibi atau rafidhi. yang pada titik ekstrim malah sampai Ghulat, menuhankan Ali (sekarang sudah musnah), itu dulu. Zaman sekarang kedua takfiri ini terlahir lagi dgn wajah yang berbeda, tetapi isinya sama.
- Neo Khawarij. ini adalah penerus dari Khawarij jaman dulu, mereka sudah di-nash oleh Nabi dan Imam Ali akan ketakfirian mereka. pola pikir mereka amat skriptualis, kaku, dan jumud. secara umum mereka berpaham Wahhabi ekstrim (Wahhabi ada jg yg moderat dan tidak takfiri). mereka amat getol membid'ahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan selainnya. mulai yg versi lembut sampai yg versi brutal ala teroris ISIS. menariknya, kelompok ini terhitung sbg kelompok sempalan ekstrim Sunni. padahal Khawarij awal itu tadinya sempalan pengikut (Syiah) Ali.
- Syiah Takfiri al-Londoni. ini adalah penerus estafet takfirisme Syiah yg didalangi dan didanai oleh London. dengan tokohnya macam Yasir al-Habib mereka begitu getol menyulut api perselisihan sektarian. Terang-terangan mereka mencela, menghina, dan mengkafirkan sahabat dan istri Nabi. celakanya, banyak Muslim Sunni yg bodoh termakan fitnah, mengira bahwa Yasir Habib ini adalah representasi mainstream Syiah. padahal mainstream Syiah sekarang (Syiah Itsna Ats'ariyah) jelas fatwa pemimpin tertingginya yaitu Ali Khamenei melarang dan haramkan caci-maki dan mengkafirkan sahabat dan istri Nabi. si Yasir Habib ini ditolak oleh ulama ulama muktabar Syiah dan bahkan akan ditangkap dan dihukum oleh Iran, tetapi dilindungi oleh Inggris.
- Takfiri Awam. nah, kalau yang ini sebenernya tidak terlalu tahu duduk permasalahan sebenarnya. mereka hanya orang awam yang karena kebodohan dan kenaifannya mudah menelan berita fitnah bulat-bulat. ini adalah jenis orang yang hanya melihat spanduk "Syiah bukan Islam", "Syiah Kafir", tiba-tiba jadi takfiri. mereka hanya orang bodoh saja. yang alam pikirannya disetir sepenuhnya oleh media, brosur, atau spanduk yang mereka baca.
Salah satu kelompok yang mengamalkan konsep takfir di zaman modern ini adalah Al-Wahhabiyah atau sering dikenal dengan istilah wahabi, mereka mengikuti imam mereka yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab dalam memvonis kafir kepada orang muslim yang tidak sejalan dengan mereka dalam beragama, berikut diantara perbuatan-perbuatan yang dianggap kufur bagi siapapun yang melakukannya.
- Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan ilmu fiqh yang diistinbatkan oleh imam-imam mazhab adalah usaha yang kufur, lihat Al-Durar 2/59
- Al-Wahhabiyah mengkafirkan Ahlus Sunnah Wal Jamaah iaitu al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah. Soleh bin Fauzan berkata: ” Pengikut Al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah tidak layak digelar sebagai ahli sunnah wal jamaaah”. Rujuk kitab Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam, halaman 32, Terbitan Riasah Ammah Lil Ifta’ di Riyadh (Najd)
- Al-Wahhabiyah mengkafirkan ulama yang mentafsirkan istiwa dengan makna istaula (menguasai) di dalam kitab mereka “Halaqaat Mamnu`ah”, Tulisan Husam Al-`Aqod, Cetakan Darus Sahabah, Tonto
- Al-Wahhabiyah mengkafirkan Umat Islam yang menyambut maulidurrasul dan yang mengamal amalan ini sejak 900 tahun yang lalu. Ibn Baaz berkata: ” Perayaan maulidurrasul adalah menyerupai orang Yahudi “. Rujuk kitabnya ” Tahzir minal Bida`ah”, halaman 5, Cetakan Riyadh Saudi
- Al-Wahhabiyah mengkafirkan ulama yang bertawasul dengan para wali dan solihin
- Al- Wahhabiyyah mencela empat mazhab yang telah disepakati oleh umat Islam mereka mengatakan bahawa para pengikut mazhab telah memecah belahkan umat dan taqlid pada salah satu mazhab juga adalah inti kesyirikan. Orang yang mengikuti satu mazhab saja dalam satu masalah, maka dia adalah seorang yang fanatik buta
- Al-Wahhabiyyah mengatakan bahawa tabarruk dengan kubur adalah haram dan salah satu jenis kesyirikan. Lihat ibn Baz dan Uthaimin dalam Fatawa wa Azkar li Ithaf al-Akhyar, Cetakan Dar al-Arqam, halaman 10
- Al-Wahhabiyah membid`ahkan al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqalani yang merupakan amirul mukminin dalam bidang hadis dan al-Hafiz Nawawi salah seorang ulama besar dalam mazhab Syafie dari kalangan Ashab At-Tarjih dan menyatakan kedua-duanya bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam kitab mereka ” Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, Dar aL-Wathan,Riyadh, halaman 42
- Al-Wahhabiyyah mengkafirkan penduduk Syam, dan mendakwa penduduk syam menyembah Ibn ‘Arabi. Rujuk taaliq Ibn Bazz pada kitaq “Fathu Majid”, halaman 217, Cetakan Darul Aulaanah
- Al-Wahabiyyyah mengkafirkan penduduk Dubai, Abu Dhabi dan menamakan mereka dengan anjing-anjing neraka Jahannam. Lihat Abdul Aziz ibn Abdullah al-Syeikh, Ahlus Sunnah an-Nabawiyyah `ala Takfir al-Mu`aththilah al-Jahmiyyah, Riyadh, cetakan pertama, halaman 51, 101, 102 dan 124.
Kesimpulan
Kesimpulan ini saya ambil dari perkataan seorang kiai bernama KH Baha'udin Nursalim atau biasa disapa dengan sebutan Gus Baha, pada saat memberikan ceramah kepada masyarakat, beliau mengkritik orang yang suka memvonis kafir menggunakan argumen bahwa Allah yang sebagai tuhan saja itu malah menyuruh orang-orang yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri untuk segera melakukan tobat dan kemudian masuk Islam, beliau mengutip ayat Al-quran
وَاَنِیۡبُوۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ
Artinya : Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).
Kemudian beliau juga mengutip dari kitab ithaf di bab takfir karangan Sayyid Murtadho AZ zabidi
فَإنَّ الإمامَ انْ يُخْطِأَ في العَفْوِ خَيرٌ مِن انْ يُخْطِأَ في العُقوبةِ
" Seorang imam lebih baik memaafkan jika ada kesalahan daripada menghukum "
Lalu dalam ceramahnya lagi beliau berkata "kita tidak usah takut masuk neraka jahannam dikarenakan divonis kafir oleh manusia, karena mereka yang masuk neraka jahannam adalah yang terkena vonis kafir dari hukum Allah, bukan manusia
Komentar
Posting Komentar